LATEST NEWS

Politik

Deradikalisasi Dunia Maya Mendesak untuk Dilakukan

Selasa, 21 Maret 2017 10:29:25 WIB

Deradikalisasi Dunia Maya Mendesak untuk Dilakukan
Photo :

Jakarta - Radikalisasi di dunia maya belakangan terasa kian merajalela. Jika tidak segera ditangkal, berita-berita yang mengandung unsur radikalisme dan kebohongan (hoax) akan dianggap sebagai sebuah kebenaran oleh masyarakat. Menangkal paham radikalisme yang dapat berkembang menjadi tindakan terorisme dan disebarkan melalui propaganda di dunia maya memang tidak mudah. Meski demikian, radikalisme di dunia maya itu harus segera dilawan melalui pola deradikalisasi.

Pandangan itu disampaikan pengamat intelijen Susaningtyas NH Kertopati dalam diskusi bertema “Menelaah Potensi Radikalisme di Pilkada DKI Jakarta” yang digelar di Jakarta, Senin (20/3).

“Dunia maya menjadi sasaran empuk oleh organisasi atau kelompok radikal dan teroris untuk menyebarkan paham-paham radikal. Upaya-upaya propaganda radikalisasi ini mudah menyebar ke seluruh dunia, karena perkembangan teknologi komunikasi, seperti maraknya berbagai aplikasi dan sarana media sosial serta kemudahan dalam mengakses berbagai situs dan media sosial tersebut,” ujar pengamat yang akrab disapa Nuning itu.

Dijelaskan, istilah deradikalisasi merupakan upaya menetralisasi paham radikal bagi mereka yang terlibat teroris dan para simpatisannya serta anggota masyarakat yang telah terekspos paham-paham radikal. Caranya adalah melalui reedukasi dan resosialisasi serta menanamkan multikuralisme.

Sementara, deradikalisasi dunia maya adalah upaya memfilter informasi di dunia maya yang kerap dijadikan kelompok teroris sebagai alat kampanye untuk menyebarkan tindakan radikal.

“Berbagai upaya deradikalisasi sudah dilakukan untuk membendung derasnya propaganda radikal di dunia maya, seperti yang dilakukan pemerintah dengan memonitor hingga melakukan pemblokiran terhadap situs-situs radikal dan dapat memprovokasi masyarakat luas. Pemblokiran ini dimaksudkan untuk mencegah berkembangnya bibit terorisme dalam rangka mengantisipasi penyebaran informasi provokatif dari kelompok-kelompok garis keras di dunia maya,” katanya.

Mantan anggota Komisi I DPR itu mengatakan, masyarakat seharusnya tidak tinggal diam, terutama remaja yang sering menjadi sasaran kelompok-kelompok radikal. Penguatan literasi media menjadi upaya yang harus terus dilakukan dan masyarakat perlu diberi pemahaman yang baik dalam berinternet agar tidak terprovokasi oleh tulisan maupun konten lainnya yang radikal.

Cara yang lain untuk membendung konten-konten negatif di media radikal, yaitu dengan melakukan kontra propaganda di media sosial. Kontra propaganda juga berfungsi membalikkan pesan yang disampaikan oleh propaganda radikal.

“Kontra propaganda itu perlu dipikirkan secara matang. Perlu dilakukan perencanaan strategi propaganda yang efektif dan tepat sasaran. Dengan menentukan siapa sasarannya, saluran propaganda media sosial apa saja yang dipakai, bagaimana bunyi pesan, hingga kapan pesan itu harus ditayangkan, adalah bagian dari perencanaan tersebut,” ujar Nuning.

Nuning mengingatkan, kontra propaganda harus dilakukan secara berkelanjutan. Sebab, proses komunikasi yang efektif tidak bisa dicapai dalam waktu sekejap. Teknologi informasi dan komunikasi yang semakin berkembang, ujarnya, akhirnya menuntut konvergensi media bagi industri media massa. Konvergensi media adalah penggabungan atau menyatunya saluran-saluran keluar (outlet) komunikasi massa, seperti media cetak, radio, televisi, dan internet.

Melalui konvergensi media tentu adalah reaksi atas sikap antisipatif dari sejumlah para pakar tentang masa depan surat kabar. Konvergensi sekaligus sebuah strategi agar industri media dapat tetap eksis.

“Konvergensi media memungkinkan masyarakat dapat mengakses berbagai media melalui sebuah alat, yaitu smartphone. Ini adalah hasil perkembangan teknologi mobile sekaligus menimbulkan konvergensi media. Melalui smartphone kita dapat melihat siaran langsung (live) televisi, mendengarkan radio, dan lain-lain,” katanya.