LATEST NEWS

Bisnis

Jangkrik, Kapal Pengolah Gas Terbesar yang Dirakit Indonesia

Rabu, 22 Maret 2017 12:31:42 WIB

Jangkrik, Kapal Pengolah Gas Terbesar yang Dirakit Indonesia
Photo : Kapal pengolah gas atau Floating Processing Unit

Tanjung Balai, Kepri - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan meresmikan kapal pengolah gas terapung atau Floating Processing Unit (FPU) sekaligus pemberian nama Jangkrik, di Saipem Karimun Yard, Tanjung Balai, Kepulauan Riau, Selasa (21/4).

Penamaan kapal ini juga menandai akan segera berproduksinya gas dari Blok Muara Bakau.

Gas pertama ditargetkan akan diproduksi sebelum pertengahan tahun 2017, lebih cepat dari perkiraan yang tercantum dalam Rencana Strategis Kementerian ESDM Tahun 2015-2018, yaitu produksi pertama tahun 2018.

Selain produksi lapangan Jangkrik yang setahun lebih cepat dari rencana yang ditetapkan pemerintah, proyek ini juga dapat menghemat sekitar US$ 300 juta dari rencana awal investasi, menurut keterangan pers Kementerian ESDM yang diterima redaksi.

“Atas nama pemerintah, saya mengucapkan terima kasih sekali bahwa investasi (proyek Jangkrik) ini bisa menghemat US$ 300 juta. Dari yang direncanakan US$ 4,5 miliar, kurang lebih sekarang menjadi sekitar US$ 4,2 miliar. Itu besar sekali, ini Rp 50 triliun lebih. Kedua, proyek ini juga lebih cepat hampir 12 bulan dari rencana Pemerintah,” kata Jonan seperti dikutip dalam siaran pers tersebut.

Jonan mengungkapkan bahwa FPU Jangkrik ini berukuran 46 x 192 meter dan menjadi FPU yang terbesar yang dimiliki Indonesia saat ini. FPU ini rencananya akan dioperasikan pada bulan Mei 2017.

“Berdasarkan laporan, FPU ini ukurannya 46x192 meter, ini kira-kira besarnya 80 persen lapangan bola. Ini besar sekali. Ini adalah FPU paling besar yang pernah dibangun, dirakit di Indonesia, dan nanti paling lambat akan dioperasikan bulan Mei 2017. Nanti kalau sudah beroperasi, kira-kira pertengahan bulan Mei, saya kira Presiden berkenan menyaksikan first oil atau first gas di Selat Makassar, karena ini FPU yang terbesar yang saat ini kita miliki,” kata Jonan.

Dibawa ke Selat Makassar

Kapal FPU Jangkrik dirancang untuk pengolahan gas dengan kapasitas hingga 450 juta standar kaki kubik per hari (mmscfd). Menteri ESDM menyatakan, produksi dari lapangan Jangkrik tersebut akan berkontribusi menambah enam hingga tujuh persen produksi gas bumi Indonesia yang ada saat ini.

“Output-nya, dari lapangan gas Jangkrik di Selat Makassar, diperkirakan sebesar 450 Mmscfd, kira-kira sama dengan 7 persen produksi gas bumi Indonesia. Ini bisa menambah produksi gas bumi Indonesia sekitar 7 persen dari produksi yang ada saat ini. Tujuh persen itu besar. Diharapkan kalau bisa ditingkatkan kapasitasnya sampai 800 Mmscfd, jika proyek IDD yang dikerjakan Chevron jadi, bisa menggunakan fasilitas FPU ini,” papar Jonan.

Upacara penamaan kapal FPU Jangkrik ditandai pemutaran kemudi simbolik oleh istri Menteri ESDM, Ratnawati Jonan. Dalam sejarah kemaritiman, sejak akhir abad 18 upacara penamaan kapal biasanya memang dilakukan oleh seorang wanita.

Selanjutnya, pada tanggal 24 Maret 2017, FPU akan ditarik berlayar ke Selat Makassar, untuk ditempatkan di wilayah kerja migas Jangkrik, Muara Bakau, Kalimantan Timur. Waktu tempuh pelayaran diperkirakan 12 hari.

Menteri Jonan mengapresiasi peran pemerintah daerah dalam memberikan kemudahan perizinan bagi investor agar dapat segera beroperasi dan memberikan manfaat bagi negara.

“ENI (perusahaan energi asal Italia) juga tadi memberikan masukan untuk percepatan perizinan. ENI sangat gembira dengan (peran) pemerintah daerah setempat, bupati, gubernur pro bisnis, tidak mempersulit, ini yang diharapkan kita semua. Dalam ekonomi, jika perizinannya pelan, pertumbuhan ekonomi juga akan pelan,” Jonan.